
Gambar dari kiri (dari arah kita yang melihat) : Foto PADMASANA di pura Mayura, MERU di pura Meru, dan PRAJA PATHI di pua Dalem.
KEUNIKAN KOTA CAKRANEGARA
Ada beberapa indikasi yang berkenaan dengan keunikan kota Cakranegara:
Pertama, Penempatan bangunan-bangunan pemujaan. Data empirik di lapangan menunjukkan bahwa kawasan kota Cakranegara terdapat beberapa tempat pemujaan atau pura yaitu :
Ada beberapa indikasi yang berkenaan dengan keunikan kota Cakranegara:
Pertama, Penempatan bangunan-bangunan pemujaan. Data empirik di lapangan menunjukkan bahwa kawasan kota Cakranegara terdapat beberapa tempat pemujaan atau pura yaitu :
a. Tiga buah pura umum sebagai tempat pemujaan, yaitu : (1) Pura Mayura berada pada zone paling timur dari persimpangan jalan pusat kota, oleh masyarakat setempat disebut pura Puseh.
(2) Pura Meru berada pada zone sebelah timur dari persimpangan jalan pusat kota, oleh masyarakat setempat disebut pura Desa. (3) Pura Dalem (kuil yang ada hubungannya dengan kuburan atau kematian) berada pada zone paling barat dan jaraknya cukup jauh dari persimpangan jalan pusat kota, oleh masyarakat setempat pura ini disebut Pura Pelebur.
(2) Pura Meru berada pada zone sebelah timur dari persimpangan jalan pusat kota, oleh masyarakat setempat disebut pura Desa. (3) Pura Dalem (kuil yang ada hubungannya dengan kuburan atau kematian) berada pada zone paling barat dan jaraknya cukup jauh dari persimpangan jalan pusat kota, oleh masyarakat setempat pura ini disebut Pura Pelebur.
b. Pada tiap-tiap blok permukiman (unit permukiman), terdapat tempat pemujaan yang disebut Pemaksan dan tempat musyawarah yang disebut bale banjar. Pemaksan dan bale banjar di tempatkan pada persimpangan jalan (cross road) unit permukiman.
c. Pada tiap-tiap unit rumah tinggal terdapat juga tempat pemujaan yang disebut pamerajan untuk golongan triwangsa atau sanggah untuk golongan sudra. Pamerajan atau sanggah ini dalam tiap unit rumah tinggal di tempatkan secara konsisten pada bagian pojok atau arah timur laut dari batas unit rumah tinggal mereka.
Kedua, Sistim jalan di kawasan kota Cakranegara, memiliki pola yang disebut pola papan catur (grid pattern) dengan blok-blok permukiman (unit-unit permukiman) nya yang ditata sangat rapi dan teratur adalah merupakan sebuah pusat pemerintahan negeri dibawah pengaruh kekuasaan kerajaan Karangasem di pulau Bali bagian timur [1].
Shuji Funo (1995)[2] dan masyarakat setempat mengatakan bahwa ada tiga tingkatan jalan atau marga yang membentuk pola permukiman di kawasan kota Cakranegara ini antara lain : Pertama, jalan yang paling lebar berada di pusat kota Cakranegara membujur dari arah utara ke arah selatan (sekarang; jalan Sultan Hasanuddin dan jalan Anak Agung Gede Ngurah) dan jalan yang membujur dari arah timur ke arah barat (sekarang; jalan Selaparang dan jalan pejanggik) membentuk persimpangan jalan (cross road), jalan ini disebut Marga Sanga. Kedua, jalan yang lebih kecil berada diluar persimpangan jalan (cross road) pusat kota membentuk blok-blok permukiman, yang pada tiap blok terdiri dari 4 (empat) sub blok, jalan ini disebut Marga Dasa. Ketiga, jalan yang paling kecil berada di dalam blok-blok permukiman, yaitu jalan yang membentuk sub-sub blok, dimana pada setiap sub blok terdiri dari 20 buah unit rumah tinggal, jadi tiap satu blok permukiman terdiri dari 80 buah unit rumah tinggal, jalan ini disebut Marga.
Kedua, Sistim jalan di kawasan kota Cakranegara, memiliki pola yang disebut pola papan catur (grid pattern) dengan blok-blok permukiman (unit-unit permukiman) nya yang ditata sangat rapi dan teratur adalah merupakan sebuah pusat pemerintahan negeri dibawah pengaruh kekuasaan kerajaan Karangasem di pulau Bali bagian timur [1].
Shuji Funo (1995)[2] dan masyarakat setempat mengatakan bahwa ada tiga tingkatan jalan atau marga yang membentuk pola permukiman di kawasan kota Cakranegara ini antara lain : Pertama, jalan yang paling lebar berada di pusat kota Cakranegara membujur dari arah utara ke arah selatan (sekarang; jalan Sultan Hasanuddin dan jalan Anak Agung Gede Ngurah) dan jalan yang membujur dari arah timur ke arah barat (sekarang; jalan Selaparang dan jalan pejanggik) membentuk persimpangan jalan (cross road), jalan ini disebut Marga Sanga. Kedua, jalan yang lebih kecil berada diluar persimpangan jalan (cross road) pusat kota membentuk blok-blok permukiman, yang pada tiap blok terdiri dari 4 (empat) sub blok, jalan ini disebut Marga Dasa. Ketiga, jalan yang paling kecil berada di dalam blok-blok permukiman, yaitu jalan yang membentuk sub-sub blok, dimana pada setiap sub blok terdiri dari 20 buah unit rumah tinggal, jadi tiap satu blok permukiman terdiri dari 80 buah unit rumah tinggal, jalan ini disebut Marga.
Jalur-jalur jalan yang ada, digunakan untuk membagi daerah hunian menurut organisasi blok permukiman (unit permukiman). Dalam adat setempat satu blok permukiman terkecil disebut dengan satu marga atau 2 X 10 unit rumah tinggal. Dua marga yang digabung menjadi satu disebut dengan kriang atau 2 X 10 unit rumah tinggal ditambah 2 X 10 unit rumah tinggal. Sedangkan dua kriang yang dijadikan satu disebut dengan KARANG. Satu karang berbentuk segi empat dan terdiri dari 80 buah unit rumah tinggal yang menempati satu blok [3].
Tiap-tiap blok permukiman (unit karang) diberi nama yang berbeda-beda disesuaikan dengan alamat asal mereka dari pulau Bali. Misalnya : desa Tulamben di Bali, di kota Cakranegara menjadi karang Tulamben, desa Sidemen di Bali, di kota Cakranegara menjadi karang Sidemen, karang Seraya, karang Buleleng, karang Bangbang, karang Bengkel dstnya [4].
Kata karang diambil dari istilah halaman atau pe-karang-an [5].
Tiap-tiap blok permukiman (unit karang) diberi nama yang berbeda-beda disesuaikan dengan alamat asal mereka dari pulau Bali. Misalnya : desa Tulamben di Bali, di kota Cakranegara menjadi karang Tulamben, desa Sidemen di Bali, di kota Cakranegara menjadi karang Sidemen, karang Seraya, karang Buleleng, karang Bangbang, karang Bengkel dstnya [4].
Kata karang diambil dari istilah halaman atau pe-karang-an [5].
Data empirik di lapangan menunjukkan bahwa ukuran satu pekarangan atau satu unit rumah tinggal adalah panjang 27 Meter dan lebar 27 Meter atau luasnya 729 Meter persegi. (kalau kita hitung angka ini akan menjadi sembilan. Contoh 2+7 = 9; 7+2+9 = 18; 1+8 = 9, maka nilai angka sembilan menurut hitungan masyarakat setempat yang beragama Hindu adalah nilai tertinggi. Berdasarkan kajian-kajian sebelumnya, maka penulis menginterpretasikan bahwa kota Cakranegara yang polanya sangat teratur dan rapi itu merupakan kota yang dibentuk oleh ukuran-ukuran yang sangat jelas dan pasti).
[1] Prof. Funo,Shuji. Cakranegara A Unique Hindu City In Lombok . The Grid in the Tradition of Asia City Planning, A Paper for the Spacial Lecture Celebrating the 30 th Aniversary of ITS Surabaya, 1995.
[2] Ibid. Funo, Shuji . 1995.
c Ibid, Funo, Shuji. 1995
[4] Zakaria, Fath., Mozaik Budaya Orang Mataram. Op. Cit. 1998, halaman 25
[5] Staff, Nell F., Kamus Bahasa Sasak Lombok . 1995, halaman 163.
[1] Prof. Funo,Shuji. Cakranegara A Unique Hindu City In Lombok . The Grid in the Tradition of Asia City Planning, A Paper for the Spacial Lecture Celebrating the 30 th Aniversary of ITS Surabaya, 1995.
[2] Ibid. Funo, Shuji . 1995.
c Ibid, Funo, Shuji. 1995
[4] Zakaria, Fath., Mozaik Budaya Orang Mataram. Op. Cit. 1998, halaman 25
[5] Staff, Nell F., Kamus Bahasa Sasak Lombok . 1995, halaman 163.
Tambahan pernyataan:
Demikian gambaran kota Cakranegara di Lombok yang memiliki pola tata ruang yang sangat spesifik (pola jalanya merupakan grid yang rapi atau teratur, penempatan pura umum membujur dari timur ke barat (sedikit berbeda dengan sebagian kota di pulau Bali yaitu: utara selatan), satu blok permukiman yang disebut KARANG dibentuk oleh 80 pekarangan dengan batas dan ukuran pekarangan yang pasti, di seluruh badan jalan kiri dan kanan baik MARGA DASA, MARGA SANGA dan MARGA terdapat ruang kosong yang ditanami pepohonan oleh masyarakat setempat disebut TAGTAGAN (apabila kita diperhatikan Tagtagan yang penuh ditanami pepohonan adalah merupakan pelindung atau barier terhadap kebisingan dari jalan di depan masing-masing unit pekarangan, sedangkan menurut masyarakat setempat Tagtagan merupakan ruang sebagai tempat mengadakan upacara ritual bila ada dalam satu pekarangan ada yang meninggal).
Demikian gambaran kota Cakranegara di Lombok yang memiliki pola tata ruang yang sangat spesifik (pola jalanya merupakan grid yang rapi atau teratur, penempatan pura umum membujur dari timur ke barat (sedikit berbeda dengan sebagian kota di pulau Bali yaitu: utara selatan), satu blok permukiman yang disebut KARANG dibentuk oleh 80 pekarangan dengan batas dan ukuran pekarangan yang pasti, di seluruh badan jalan kiri dan kanan baik MARGA DASA, MARGA SANGA dan MARGA terdapat ruang kosong yang ditanami pepohonan oleh masyarakat setempat disebut TAGTAGAN (apabila kita diperhatikan Tagtagan yang penuh ditanami pepohonan adalah merupakan pelindung atau barier terhadap kebisingan dari jalan di depan masing-masing unit pekarangan, sedangkan menurut masyarakat setempat Tagtagan merupakan ruang sebagai tempat mengadakan upacara ritual bila ada dalam satu pekarangan ada yang meninggal).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar